J-Rocks Files
Sabtu, 17 Juli 2010
Rabu, 07 Juli 2010
Konser Jambore Karya Tunas Nusantara 2010




Sebuah konser dengan berpuluh pesan yang hendak disampaikannya kepada publik penikmatnya. Hal yang sama terjadi pada konser Jambore Karya Tunas Nusantara yang dihelat di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang, Jabar, Jum'at (3/7) malam, lalu.
Terlihat para penampilnya, dari grup band J-Rocks, hingga solois yang juga jawara Indonesia Idol Mike Mohede, sampai Emha Ainun Nadjib dengan Kyai Kanjeng-nya, terus menyerukan beragam pesan dari atas panggung. Dari sekedar pesan pentingnya menjaga rasa persatuan, dan kesatuan bangsa demi kemaslahatan bersama, sampai pesan terselubung yang malu-malu hendak disampikan secara verbal.
Khas Indonesia
Buktinya, ketika J-Rocks, band pengusung aliran musik Japan Rock itu naik ke atas panggung, sebagai pemuncak acara, niscaya ribuan suara menggema, terpantul tebing gunung Wayang, yang memunggungi panggung. Iman (vokal, gitar), Sony (gitar), Wima (bass), dan Anton (drum), sebagaimana grup band asal Jepang pengusung warna musik pop rock seperti The SS, The Star Club, The Stalin, INU, Gaseneta, Lizard, dan Friction, menawarkan musikalitas yang bercita rasa khas. Perpaduan musik bercita rasa Barat, dan Jepang.
Dalam ranah musik J-Rocks, sebagaimana diakui Iman sebelum naik ke atas panggung, mereka juga memperkaya musikalitas mereka dengan musik bercita rasa Indonesia. ''Seperti melibatkan beberapa lagu daerah,'' katanya merujuk tembang ''Gundul-Gundul Pacul'' dari Jateng, ''Manuk Dadali'' dari Sunda, dan ''Singgangar Tulo'' dari Batak.
Dan di atas pangggung yang gempita, grup band yang telah melepas album Topeng Sahabat (2005), Spirit (2007), dan Road to Abbey (2009) berhasil ''memfitnah'' penikmatnya untuk menyanyikan sejumlah singgel hits mereka seperti ''Meraih Mimpi'', ''Hanya Aku'', dan ''Falling in Love''.
Kisah selebihnya, sebagaima cerita standar sebuah grup band atau musisi yang mendapat ''tanggapan'' dari kliennya, sejumlah pesan mereka sampaikan dari atas panggung. Pesan tentang nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kerja keras, dan keseriusan dalam menghasilkan sebuah karya yang berguna bagi bangsa dan negara. Terdengar naif, tapi memang demikian adanya.
Terlihat para penampilnya, dari grup band J-Rocks, hingga solois yang juga jawara Indonesia Idol Mike Mohede, sampai Emha Ainun Nadjib dengan Kyai Kanjeng-nya, terus menyerukan beragam pesan dari atas panggung. Dari sekedar pesan pentingnya menjaga rasa persatuan, dan kesatuan bangsa demi kemaslahatan bersama, sampai pesan terselubung yang malu-malu hendak disampikan secara verbal.
Khas Indonesia
Buktinya, ketika J-Rocks, band pengusung aliran musik Japan Rock itu naik ke atas panggung, sebagai pemuncak acara, niscaya ribuan suara menggema, terpantul tebing gunung Wayang, yang memunggungi panggung. Iman (vokal, gitar), Sony (gitar), Wima (bass), dan Anton (drum), sebagaimana grup band asal Jepang pengusung warna musik pop rock seperti The SS, The Star Club, The Stalin, INU, Gaseneta, Lizard, dan Friction, menawarkan musikalitas yang bercita rasa khas. Perpaduan musik bercita rasa Barat, dan Jepang.
Dalam ranah musik J-Rocks, sebagaimana diakui Iman sebelum naik ke atas panggung, mereka juga memperkaya musikalitas mereka dengan musik bercita rasa Indonesia. ''Seperti melibatkan beberapa lagu daerah,'' katanya merujuk tembang ''Gundul-Gundul Pacul'' dari Jateng, ''Manuk Dadali'' dari Sunda, dan ''Singgangar Tulo'' dari Batak.
Dan di atas pangggung yang gempita, grup band yang telah melepas album Topeng Sahabat (2005), Spirit (2007), dan Road to Abbey (2009) berhasil ''memfitnah'' penikmatnya untuk menyanyikan sejumlah singgel hits mereka seperti ''Meraih Mimpi'', ''Hanya Aku'', dan ''Falling in Love''.
Kisah selebihnya, sebagaima cerita standar sebuah grup band atau musisi yang mendapat ''tanggapan'' dari kliennya, sejumlah pesan mereka sampaikan dari atas panggung. Pesan tentang nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kerja keras, dan keseriusan dalam menghasilkan sebuah karya yang berguna bagi bangsa dan negara. Terdengar naif, tapi memang demikian adanya.




